.:: Kata-kata Hikmah ::.

Life is like a ship...therefore strengthen ur ship coz the ocean is very deep and the journey is very long...

Saturday, July 25, 2009

.:: Detik-detik Rasulullah Menghadapi Sakaratul Maut ::.

Ada sebuah kisah tentang cinta yang sebenar-benarnya cinta yang dicontohkan Allah melalui kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu, Rasulullah dengan suara yang terbatas memberi khutbah, "Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua perkara kepada kalian, Al-Quran dan sunnahku. Barangsiapa mencintai sunnahku, beerti mencintai aku dan kelak orang yang mencintaiku, akan masuk syurga bersama-samaku."

Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca. Umar dadanya naik turun menahan nafas dan tangisnya. Usman menghela nafas panjang-panjang dan Alimenundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat otu telah datang, saatnya sudah tiba. "Rasulullah akan meningggalkan kita semua," keluh hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir selesai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan cergas menangkap Rasulullah yang berkeadaan lemah dan goyah ketika turun dari mimbar. Disaat itu, kalau mampu, seluruh sahabat yang hadir disana pasti akan menahan detik-detik daripada belalu.

Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup. Sedang didalamnya, Rasulullah sedang erbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kuma yang menjadi alas tidurnya. Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seseorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tetapi Fatimah tidak mengizinknnya masuk, "Maaflah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian dia kembali menemui ayahnya yang tenyata sudah membuka mata dan bertanya kepada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?" "Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut.

Lalu Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah bahagian demi bahagian wajah anknya itu hendak dikenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara. Dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakatul maut," kata Rasulullah. Fatimah pun menahan ledakan tangisnya.

Malaikat maut datang menghampiri, tetapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya. Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut roh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. "Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" tanya Rasulullah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti rohmu. Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega. Matanya masih penuh kecemasan. "Engkau tidak senang mendengar khabar ini?" tanya Jibril lagi. "Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" "Jangan khuatir wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku : 'Kuharamkan syurga bagi sesiapa sahaja kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saat Izrail melakukan tugas. Perlahan-lahan roh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah pelu, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini," perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang berada disampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" tanya Rasulullah pada malaikat pengantar wahyu itu. "Siapakah yang sanggup melihat kekasih Allah direnggut ajal?" kata Jibril.

Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik kerana sakit yang tidak tertahan lagi. "Ya Allah, dahsyat niat maut ini. Timpakan saja semua siksaan maut ini kepadaku, jangan pada umatku." Badan Rasulullah mulai dingin. Kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu. Lalu Ali segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanukum, peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah diantara kamu." Diluar pintu, tangisan mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menekup tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. "Ummatii, ummatii, ummatii" - "Umatku, umatku, umatku" dan berakhirlah hidup manusia mulia pembawa rahmat ke seluruh alam itu.

1 comments:

shinju said...

wa.. cdey2 izzam..tapi baru nak feeling dalam2 tup2 dah habis cite..kalau sambung panjang lagi mesti best punye.. bacaan yg sgt bagus utk bangkitkn tangisan.

Post a Comment